Media Sosial

Siang hari di sebuah mall, terdapat lima orang remaja sedang asyik mengobrol. Mereka bernama Sherli, Risa, Tami, Sofi, dan Putri. Kempatnya memiliki hobi membicarakan orang lain sedangkan Putri hanya menjadi pendengar setia obrolan mereka.
Sherli      : “Eh, teman-teman coba lihat deh akun instagram-nya Siska, dia memposting foto memakai baju yang sedang trend itu loh postingannya baru satu jam yang lalu” (keempat remaja langsung membuka telepon pintarnya masing-masing kecuali Putri)
Risa        : “Wah benar, ah paling juga itu dapat barang gratis. Istilahnya itu apa sih lupa.”
Tami      : “Endorse, iya mana mampu dia beli barang semahal itu. Kalian juga belum tahu kan Siska itu katanya diam-diam dekat dengan Kak Andri pacarnya ketua OSIS kita. Aku sering melihat di akun path nya, kemana-mana selalu bersama orang yang memakai inisial A, dan memang ramai digosipkan demikian di lini massa path
Sofi         : “Ih apalagi kicauan di akun twitter-nya, gak banget deh.”
Keempatnya mengiyakan dan tertawa bersamaan kecuali Putri.
Sherli      : “Eh Put, kamu kenapa sih dari tadi diam saja?”
Risa        : “Putri kan kurang gaul, mana ngerti dia media sosial, telepon pintar saja tidak punya.”
Putri        : (tersenyum kecil) “Aku memang tidak punya telepon pintar dan tidak mengerti cara memakai media sosial tapi aku bersyukur karena itu mencegahku mengurusi urusan orang lain yang tidak berpengaruh apapun kepadaku.”
Keempat remaja tersebut langsung diam mendengar perkataan Putri.


Karya : Tiwi Rizkia Adliyani
Tema  : Teknologi dan Sosial

Kertas

Di suatu sekolah menengah atas, seorang murid kebingungan sambil melihat kertas ulangannya yang nilainya jelek. Dia pun terlihat sangat sedih. Datang temannya menghampiri dan bertanya kepadanya.
Murid 1 :”Kamu kenapa kelihatan sedih begitu? Gara-gara nilai kamu jelek ya?”
Murid 2 :”Bukan itu, kalau nilai jelek sih aku sudah biasa tapi karena yang lain.”
Murid 1 :”Yang lain apa?”
Murid 2 :”Gara-gara murid seperti aku bumi bakal lebih panas lagi.”
Murid 1 :”Loh kok bisa gitu?”
Murid 2 :”Yak arena nilai aku jelek terus, aku harus remedial. Aku harus menggunakan kertas lagi, kamu tau kan kertas ini terbuat dari pohon, artinya ada 1 pohon lagi yang aku tebang untuk remedial ini. Bayangkan jika satu sekolah ini ada 40 murid yang harus remedial, berarti ada 40 pohon yang harus ditebang dalam satu hari, kalau satu bulan berapa? Terus satu tahun! Orang seperti aku ini yang salah satunya menyebabkan pemanasan global.”

Murid 1 :”Wah kamu pinter juga ya ternyata.”

Karya : Wini Widiani
Tema  : Lingkungan

Rokok

Saat sedang berjalan-jalan bersama Ayahnya, Andin melihat sang Ayah merokok di tempat umum.
Andin :”Ayah kok merokok sih, rokok kan berbahaya Yah!”
Ayah :”Iya Ayah tahu ko Ndin.”
Andin :”Di dalam rokok itu terkadung zat-zat yang sangat berbahaya buat tubuh ayah loh!”
Ayah :”Iya ayah tahu ko Ndin.”
Andin :”Ayah hanya buang-buang saja, karena dengan ayah merokok, itu sama saja dengan ayah membakar uang ayah sendiri!”
Ayah :”Iya Ayah tahu ko Ndin.”
Andin : “Terus kalau ayah tahu, kenapa Ayah tetap merokok?”
Ayah :”Asal kamu tahu ya Ndin, Ayah itu gak suka rokok. Ayah benci rokok, makanya satu-persatu ayah bakar rokok ini sampai habis. Tapi, pemerintah tidak menutup pabrik-pabrik rokok. Jadi selama rokok itu masih dibuat dan ayah masih benci rokok, ayah bakal terus membakar rokok-rokok ini Ndin!”
Andin :”Wah Andin kagum sama semangat juang Ayah.”

Karya : Siti Sarah
Tema  : Sosial dan Lingkungan

Limbah

Di suatu kota, telah terjadi pencemaran sungai yang disebabkan oleh limbah-limbah pabrik. Sekelempok pemuda yang cinta lingkungan datang ke salah satu pabrik untuk memprotes ulah pabrik membuang limbah sembarangan.
Aji :”Bapak seharusnya tidak membuang limbah itu ke sungai!”
Ali :”Iya pak, itu sangat berbahaya bagi kesehatan warga di sekitar sungai itu!”
Ani :”Para warga bisa terkena penyakit akibat air yang tercemar oleh limbah pabrik bapak!”
Adi :”Bapak harus menghentikan buang limbah pabrik bapak ini ke sungai sekarang juga!”
Pak Agus :”Bapak mau berhenti membuang limbah pabrik bapak ke sungai asalkan ada tempatnya. Sekarang kalian tahu sendiri tempat pembuangan yang disediakan oleh pemerintah hanya untuk organik dan anorganik, nah tempat sampah untuk limbah kan belum ada, jadi bapak mengikuti langkah para warga agar keinginan bapak yaitu disediakannya tempat sampah limbah diberikan pemerintah dengan cara buang limbah ke sungai.”
Adi :”Kalau itu memang alasan bapak, kami siap bantu pak demi masa depan sungai tanpa limbah lagi!”
Pemuda Lain :”Iya pak!”

Karya : Shintia Wati
Tema  : Lingkungan

Tablet

Suatu hari, Ayah merasa tidak enak badan dan menyuruh Udin untuk membelikannya obat.
Ayah :”Din beliin ayah tablet ya di depan, ayah nggak enak badan.”
Udin :”Iya yah siap!”
Udin pun pergi untuk membelikan obat ayahnya. Namun setelah lama di tunggu Udin belum pulang-pulang. Dan pada malam harinya Udin baru pulang.
Ayah :”Kamu darimana saja sih Din, beli tablet aja lama banget!”
Udin :”Tadi di tempat Udin beli tablet penuh Yah, soalnya lagi ada promo gitu.”
Ayah :”Promo? Tumben ada promo, sekarang mana tablet ayah?”
Udin :”Ini yah, Udin udah beliin tablet yang sesuai dengan yang ayah mau.”
Udin pun memberikan tablet tersebut ke Ayah.
Ayah :”Loh kok ini sih Din? Yang beginian mah mana bisa nyembuhin sakit ayah!”
Udin : ”Salah ya Yah?”
Ayah :”Salah dong, yang ini kan ayah sudah punya, harusnya kamu beli merk yang lain dong Din!”


Karya : Salli Airatika Seani
Tema  : Teknologi

Tim Favorit

Di suatu SMA di pagi hari, Ahmad dan Gugun sedang berdebat tentang klub sepak bola favorit mereka masing-masing.
Ahmad :”Tim sepak bola saya yang terbaik di dunia, musim kemarin saja mereka bisa memenangkan 4 piala!”
Gugun :”Itu sih belum seberapa, tim sepak bola favoritku lebih hebat, sepanjang sejarah mereka sudah juara eropa 10 kali!”
Ahmad :”Ya memang tapi musim ini tim kamu tidak memenangkan satu piala pun. Hahahaha.”
Gugun :”Tim kamu hanya beruntung bisa mendapatkan piala, kalau saja pemain andalannya cedera panjang, aku yakin tim kamu juga tidak akan memenangkan satu piala pun, aku yakin itu!”
Ahmad :”Yang penting buktinya sudah ada 4 piala yang berhasil mereka dapatkan, tim kamu NOL besar! Hahahaha.”
Saat perdebatan itu semakin panas dan bahkan terlihat akan terjadi perkelahian, Dani datang untuk melerai Ahmad dan Gugun.
Dani :”Sudah hentikan kalian berdua, sebenarnya kalian ini kenapa sih?”
Gugun :”Dia meremehkan dan menghina tim bola favoritku Dan, aku nggak terima!”
Ahmad :”Memang tim kamu itu payah!”
Dani :”Sudah cukup! Kalian ini bodoh ya, sekarang saya tanya kepada kalian, kalau tim kalian itu juara apa yang kalian dapat? Hanya senangnya saja kan?! Dapat uang juga? Atau kalian di undang untuk menonton langsung mereka di sana? Tidak kan! Kalian rela berkelahi dengan satu sama lain karena tim yang sebenarnya tak tahu keberadaan kalian. Sungguh menyedihkan, lebih baik kalian belajar dengan benar, jadilah orang yang berguna bagi bangsa ini, bukan memusuhi satu sama lain! Sekarang saya ingin kalian bermaafan.”
Mendengar ucapan Dani tadi, Ahmad dan Gugun pun saling bermaafan dan mereka bertiga tertawa bersama-sama dan berjalan ke kantin sekolah.

Karya : Rizki Ari Saputra
Tema  : Sosial

Berpolitik

      Pada pagi hari ada seorang guru sedang menjelaskan pentingnya berpolitik di dalam kelas. Kemudian bu guru bertanya pada muridnya.
Bu Guru : "Anak-anak bagaimana pendapat kalian tentang politik?"
Murid : " Gak tau bu, saya nggak suka politik. Apalagi yang korupsi banyak sekali bu!"
Bu Guru : "Ehh kalian nggak boleh gitu, politik itu bagus untuk tujuan bersama."
Murid : "Oh begitu ya bu, saya jadi suka politik, ok deh saya akan menggunakan politik saat ujian nanti."
Bu Guru : "Bagaimana caranya?"
Murid : "Dengan cara mencontek."
Bu Guru : "Loh kok begitu?"
Murid : "Ibu bagaimana sih, kan kata ibu politik itu bagus dilakukan untuk mencapai tujuan bersama, oleh karena itu saya akan menggunakan politik saat ujian nanti."

Karya : Rendi Ardiansyah
Tema  : Politim (Sosial)

Taat Aturan

      Pada jaman dahulu di suatu ibu kota di suatu negara (yang pasti bukan negara kita) ada seorang tukang pembersih taman yang selalu rajin membersihkan taman tempat dia bekerja. Suatu siang yang sangat panas, tukang pembersih itu sedang menyapu taman, lalu datanglah sekelompok murid SMA yang nongkrong di kursi-kursi taman. Pada saat itu anak-anak murid SMA tersebut membeli minum dan jajanan. Kemudian setelah selesai mereka membuang bungkusnya di dekat tong sampah "BUANGLAH SAMPAH PADA TEMPATNYA". Tukang pembersih yang melihat itu merasa jengkel dengan sikap murid-muid SMA itu.
      Dan pada keesokan harinya, tepatnya pada pagi hari sekumpulan pemuda berolahraga di taman tersebut. Karena merasa lelah mereka membeli sedikit makanan yang memliki wadah, tetapi setelah makan mereka tidak menghiraukan tulisan di papan yang dibuat oleh tukang pembersih itu. Hati tukang pembersih itu sangat kesal dan berpikir untuk mengganti tulisan pada tong sampah dan papan tersebut. Akhirnya dia mengganti kata-kata pada papan tersebut menjadi "BUANGLAH SAMPAH TIDAK PADA TEMPATNYA". Dan hari ketiganya ada seorang pemuda yang sedang meminum softdrink. Setelah habis minuman yang dia minum, dia membuang botol bekas minuman itu sembarangan.

Karya ; Rafi Andika Riansyah
Tema  : Lingkungan

Buatan

      Sekelompok siswa sedang melakukan naik gunung ke sebuah daerah. Namun betapa terkejutnya mereka melihat kenyataan yang ada di depan mata mereka.
Damas : “Wah ini kok gunungnya habis gini ya?”
Agus : “Iya nih, gara-gara penambang pasir dan batu tuh yang seenaknya ngegali ini gunung sampai habis gini.”
Ucok : “Ya mau bagaimana lagi, masih banyak juga orang yang mau bangun rumah.”
Adi : “Kalau begini terus semua gunung yang ada di Indonesia bisa habis semua nih.”
Damas : “Oiya, bagaimana kalau kita usulkan ke pemerintah untuk membuat gunung baru?”
Ucok : “Memangnya bisa bikin gunung buatan?”
Damas : “Danau juga kan ada danau buatan, berarti gunung juga bisa dibuat dong!”
Agus : “Iya juga yah, nanti gunung buatannya dibuat dari batu-batuan dan tanah yang ada di gunug yang lain gitu kan?”

      Mereka berempat tertawa mendengar ucapan Agus yang tidak masuk akal dan lebih tidak masuk akal adalah ide dari Damas sebelumnya.

Karya : Muhammad Ilyas Yusuf
Tema  : Lingkungan

Gagap Teknologi

      Di sebuah desa, ada seorang remaja yang pintar dalam bidang akademik. Suatu hari di sekolahnya gurunya memerintahkan untuk mencari materi di internet (Media Sosial).
Ibu Guru : "Anak-anak, sekarng kalian cari materi tentang teks eksposisi di internet ya!"
Anak-anak : "Iyaaa bu."
      Disatu sisi ada seorang remaja yang pintar dalam pelajaran namun dia gagap teknologi, dan dia kebingungan.
Asep : "Ujang, kalau internet itu apa?"
Ujang : "Ya Allah, masa kamu gak tau tentang internet? Asep asep, itu kan sudah mendunia!"
Asep : "Ya mau gimana Jang, saya kan dari kampung jadi tidak tahu-menahu internet itu apa?"
Ujang : "Nih ya Sep, sama saya dijelaskan! Internet itu media sosial yang di dalamnya banyak penjelasan yang kita tidak dimengerti, pokonya apa saja yang kita cari pasti ada di internet."
Asep : "Ohh begitu ya, tapi saya belum terlalu mengerti nih."
Ujang : "Ahh susah ngejelasinnya juga, bu guru masa si Asep tidak tahu internet itu apa!"
Anak-anak : "Hahahahahaha!"
Ibu Guru : "Eh anak-anak tidak boleh seperti itu ya kepada teman-teman. Baiklah besok ibu akan mengadakan penyuluhan ya di sekolah."
Anak-anak : "Iya buuuu."

Karya : Nanda Sulistyawati
Tema  : Teknologi

Kotak Ajaib

      Wawan dan teman satu sekolahnya yang berasal dari sebuah kampung pergi berlibur ke kota besar. Di sana mereka menginap di sebuah hotel yang mewah yang sebelumnya belum mereka ketahui.
Wawan : “Wah mewah sekali hotel ini. Kamarnya juga luas, kamar mandinya seluas kamarku di rumah. Keren!”
Ade : “Ini sih lebih dari keren lagi Wan. Ini luar biasa!!”
Wawan : “Aku setuju De, ini sangat luar biasa! Oiya aku mandi duluan ya, penasaran ingin nyoba kamar mandinya.”
      Saat di kamar mandi, Wawan terkesima dengan bak mandinya yang besar. Saat dia menyalakan air keran, ia terkejut karena ada sebuah kotak yang bersuara dan setelah itu keluarlah air hangat dari keran tersebut.
Wawan : “Ajaib!” ujar Wawan.
Setelah mandi, dengan semangat Wawan menceritakan soal kotak ajaib itu kepada teman-temannya.
Wawan : “Kotak itu sangatlah ajaib, saat aku menyalakan keran kotak itu bersuara dan dengan ajaibnya air dari keran menjadi air hangat. Aku lihat di kotak itu tak ada apinya bahkan kayu bakar. Ini sangat luar biasa!”
Mendengar itu, teman-temannya berebut untuk mandi dan merasakan air dari kotak ajaib tersebut.

Karya : Intan Amalia Anggi
Tema  : Teknologi

Tanda Tangan

      Suatu hari di sebuah SMA favorit di kota Bandung. Saat itu Guru sedang membagikan hasil tes Bahasa Indonesia.
Guru : “Nah anak-anak, semua sudah pegang hasil tes kalian masing-masing kan? Jangan lupa kalian harus minta orang tua kalian masing-masing untuk menandatangani hasil tes kalian itu!”
Andre : “Waduh, bahaya nih. Hasil tes saya kan jelek. Papah pasti bakal marah besar nih kalau lihat hasil tes saya ini. Gimana caranya ya?”
Dani : “Udah kamu palsuin aja tanda tangan papah kamu Ndre. Aman kan.”
Andre : “Aman sih, tapi masalahnya kan papah saya kepala sekolah ini Dan, jadi guru sudah tau betul bentuk tanda tangannya. Hampir tiap hari ga di sekolah atau di rumah kerjaannya kan cuma kasih tanda tangan doang di tiap lembar kertas penting.”
Dani : “Satuin aja kertas tes kamu ini sama yang lain, papah kamu ga akan sadar ko.”
Andre : “Ide bagus tuh.”
      Pada malam harinya Andre melakukan hal tersebut. Dan keesokan harinya Andre datang ke kelas dengan wajah senang.
Dani : “Gimana Ndre, berhasil kan?”
Andre : “Berhasil dong!”

Andre pun tenang memberikan hasil tes itu kembali pada gurunya.

Karya : Indah Novita Sari
Tema  : Sosial

Pemutih

      Suatu hari Agnes disuruh ibunya untuk mencuci pakaian yang sudah menumpuk karena sudah lama tidak dicuci. Saat mencuci, Agnes kebingungan karena seragam sekolahnya yang ia satukan dengan cucian yang lain berubah warna jadi biru.
Agnes : “Waduh, ibu baju seragam Agnes kok kelunturan gini?”
Ibu : “Loh kok bisa? Kamu nyucinya disatuin sama celana jeans kamu itu ya?”
Agnes : “Iya bu, tapi kan harusnya celananya yang jadi putih bukan seragamnya yang jadi biru. Agnes kan nyucinya pakai pemutih mah.”
Ibu : “Makanya kalau sekolah tuh yang bener, yang serius nes!”

      Ibu Agnes pergi dengan dinginnya sementara Agnes masih meratapi seragamnya yang kini sudah tak putih lagi walaupun dicuci pakai pemutih.

Karya : Pebrianti Sriwahyuni
Tema  : Sains

Komentator

      Di sebuah warung kopi, Lutfi dan Hasan sedang asyik meminum kopi mereka sambil mengobrol.
Lutfi       : “Mantap nih kopi, apalagi diminumnya pas dingin kaya gini.”
Hasan    : “Bener banget Fi, tapi kamu tahu gak kalau kopi ini terbuat dari kotoran. Enak sih tapi kan jorok.”
Lutfi       : “Iya saya tahu kok.”
Hasan    : “Terus kenapa masih kamu minum?”
Lutfi       : “Kamu juga tau kan kalau yang enak-enak itu biasanya ga sehat dan agak-agak jorok dikit.”
Hasan    : “Bener juga sih, belum lagi ditambah gelasnya. Ini gelasnya udah dicuci bersih belum ya? Terus sendoknya juga. Saya lihat tadi si mas nya nyuci nya pakai air di ember yang udah berapa kali di pakai buat nyuci, pasti banyak banget kumannya nih! Kotor! (sambil meminum kopi)
Lutfi       : “Hahahaha!! Dasar kamu komentator. Bisanya cuma komentar, tapi tetep saja itu kopi kamu minum juga.”
Mereka berdua tertawa bersama-sama dan meneruskan meminum kopi mereka masing-masing sampai habis.

Karya : Faishal Octaviyanto
Tema  : Sosial

Sunnah Rasul

      Di suatu sore, Ujang berangkat mengaji ke masjid dekat rumahnya. Di jalan dia melihat banyak orang yang berjalan sambil memakai hp sehingga jalan orang-orang tersebut kepalanya menunduk. Ujang terlihat senang melihat itu semua. Sesampainya di masjid, Pak Ustadz terheran melihat Ujang yang datang dengan wajah senang.
Pak Ustadz : “Assalammualaikum Ujang, bapak lihat kamu sepertinya lagi senang.”
Ujang : “Waalaikum salam Pak Ustadz, iya pak, Ujang seneng lihat orang-orang jaman sekarang.”
Pak Ustadz : “Senang kenapa Jang?”
Ujang : “Iya, Ujang senang karena sekarang banyak orang yang melakukan sunnah Rasul.”
Pak Ustadz : “Maksudnya gimana Jang?”
Ujang : “Pak Ustadz kemarin kan bilang kalau jalan sambil menunduk itu termasuk salah satu sunnah Rasul. Nah di jalan Ujang lihat banyak orang berjalan sambil menunduk pegang hp juga.”

Pak Ustadz hanya tertawa mendengar hal itu dari Ujang.

Karya : Egi Miftahudin
Tema  : Sosial dan Teknologi

Ilmu Padi

      Suatu hari di sebuah sekolah menengah atas, dua orang sahabat Agus dan Dani sedang berbincang mengenai telepon seluler pintar atau smartphone.
Agus :”Dan, kamu tahu smartphone kan?”
Dani :”Iya aku tahu, memangnya kenapa Gus?”
Agus :”Perkembangan teknologi smartphone hebat ya Dan, sekarang kita bisa melakukan apapun dengan menggunakan alat itu. Kamu mau belajar, bisa cari di internet pelajarannya. Terus kalau kamu mau jualan, bisa lewat media sosial. Nah semua itu bisa kamu lakuin dengan smartphone Dan. Keren banget ya.”
Dani :”Iya Gus keren banget, apalagi sekarang setiap orang pasti punya yang namanya smartphone.”
Agus :”Iya Dan, terus menurut aku dengan adanya smartphone juga membantu kita untuk mengikuti ajaran ilmu padi.”
Dani :”Maksud kamu apa Gus? Apa hubungannya hape dengan padi.”
Agus :”Itu loh ilmu padi kan makin tua makin merunduk, nah hubungannya ya semakin hape kita smart semakin merunduk pula kepala kita.”
Mendengar ucapan Agus itu Dani lantas menggeleng-gelengkan kepala
Dani :”Tapi gus kamu harus tetap tengok jalanmu di depan, nanti kamu bisa-bisa tertabrak apabila kamu keterusan merunduk haha.”

Mereka berdua tertawa terbahak-bahak.

Karya : Deden Eka Permana
Tema  : Teknologi

Pasien Stadium Akhir

      Di sebuah rumah sakit jiwa, terdapat para pasien sakit jiwa yang sedang bermain di taman rumah sakit. Hari itu waktunya pemeriksaan rutin tingkat kesembuhan pasien dengan mengadakan tes. Tes tersebut berupa penyediaan kolam renang tanpa air oleh pihak rumah sakit. Barang siapa yang tidak masuk ke dalam kolam renang dinyatakan sudah sembuh. Kemudian datang seorang laki-laki yang mengenakan baju serba putih seperti dokter.
Dokter: “Teman-teman sekarang waktunya kita berenang, siapa yang mau berenang?”
Para pasien: “Saya dok saya” (serempak para pasien tersebut menjawab dan langsung lari menuju kolam renang tanpa air)
      Para pasien tersebut seolah-olah berenang. Ada yang berenang gaya bebas, gaya katak, gaya punggung, gaya kupu-kupu, sampai gaya batu.
Dokter: “Wah, mereka semua masih gila”
      Kemudian di sudut taman terdapat satu orang yang tidak turun ke dalam kolam renang, lalu laki-laki berpakaian dokter itu mendekatinya dan beranggapan bahwa pasien tersebut sudah sembuh.
Dokter: “Halo, selamat ya kamu sudah sembuh, ngomong-ngomong mengapa kamu tidak ikut berenang bersama teman-temanmu?”
Pasien: “Airnya terlalu dingin dok”
Dokter: “ternyata kamu masih gila, sini ikut saya” (mereka berjalan mendekati kolam)
Dokter: “Coba masukan tanganmu ke dalam kolam, tuh kan airnya hangat”
      Setelah itu datang dokter sungguhan, Ia memberi informasi saatnya pasien untuk minum obat dan istirahat.


Karya : Dinda Agustine Salsabila
Tema  : Sosial

Datang Terlambat

       Suatu hari ada seorang mahasiswa terlambat datang ke perkuliahan di mana pada saat itu yang mengajar adalah seorang dosen senior. Mahasiswa dengan napas terengah-engah membuka pintu perlahan dan masuk ke dalam kelas.
Mahasiswa :”Permisi pak, maaf saya terlambat. Boleh saya masuk pak?”
Dosen :” Dari mana saja kamu?! Jam segini baru datang, kamu tahu kan aturan di dalam kelas saya apa?!”
Mahasiswa :”Maaf pak, saya tahu aturannya. Bagi yang datang terlambat lebih dari 15 menit dari jadwal yang telah ditentukan diperkenankan masuk ke dalam kelas namun wajib menutup pintu dari luar pak.”
Dosen :”Itu kamu sudah hafal. Kamu bapak izinkan masuk tapi dengan syarat tadi, kamu harus menutup pintu kelas ini dari luar!”
Mahasiswa :”Yah, itu sama saja dengan bapak menyuruh saya untuk keluar.”
Dosen :”Memang itu maksud saya. Kamu tahu mengapa aturan itu saya buat? Itu untuk mendidik kita semua untuk disiplin terhadap apapun, khususnya waktu, paham?! Karena tanpa kedisiplinan, sepintar apapun kamu akan percuma, tidak ada artinya!”
Mahasiswa  :”Iya pak saya sangat paham. Tapi kan saya baru pertama kali pak datang terlambat.”
Dosen  :”Tidak ada alasan untuk itu. Sekarang lekas kamu tutup pintu itu dari luar!”
      Akhirnya dengan kesal mahasiswa tersebut keluar kelas dan menutup pintu kelas itu dari luar sesuai dengan aturan. Minggu berikutnya, mahasiswa yang sebelumnya datang terlambat kini ia datang tepat waktu. Sebaliknya, sang dosen lah yang kali ini datang terlambat. Sang dosen pun masuk kelas dan meminta maaf kepada para mahasiswa karena keterlambatannya.
Dosen :”Maaf anak-anak, bapak datang terlambat karena ada urusan mendadak yang harus bapak selesaikan terlebih dahulu.”
Mahasiswa :”Bapak tahu kan aturan bagi yang datang terlambat apa?”
Dosen  :”Itu kan berlaku hanya untuk kalian saja para mahasiswa, kalau bapak tidak diizinkan masuk kelas siapa yang akan mengajarkan kalian? Siapa yang akan mendidik kalian menjadi generasi emas bangsa ini?”
Mahasiswa :”Bapak tahu kan maksud tujuan aturan itu dibuat untuk apa? Untuk kedisiplinan. Tanpa kedisilipinan, sehebat apapun ilmu yang bapak berikan kepada kami akan percuma karena bapak menunjukan sikap tidak disiplin terhadap waktu yang telah dibuat sejak awal.”
Dosen :”Bapak paham dan benar-benar meminta maaf, tapi bapak harus menyelesaikan hal yang penting terlebih dahulu.”
Mahasiswa :”Apakah mendidik generasi emas harapan bangsa itu bukanlah suatu hal yang penting untuk bapak? Kami kira tidak ada alasan atas perbuatan tidak disiplin bapak ini serta tidak mementingkan kepentingan orang banyak terlebih dahulu sebagai kewajiban bapak sebagai pengajar, oleh karena itu silahkan bapak menutup pintu itu dari luar.”
      Sang dosen tak bisa membalas ucapan dari mahasiswa tersebut dan mengaku salah. Akhirnya dia pun menutup pintu kelas dari luar atas akibat perbuatan tidak disiplinnya terhadap waktu.

Karya : Annisa Rahmaliyah
Tema  : Sosial

Jantan Atau Betina?

Pada saat pelajaran Biologi seorang guru sedang menjelaskan tentang anatomi serangga. Namun penjelasan guru tersebut kurang dimengerti oleh salah satu murid di kelas itu.
Murid 1: “Bu, bagaimana cara membedakan semut jantan dan semut betina?”
Guru: “Coba dari kalian ada yang bisa menjawab pertanyaan teman kalian?”
Murid 2: “Saya bu”
Guru: “Ya, apa jawabannya?”
Murid 2: “Intip saja saat semut itu sedang mandi Bu”
Guru: “Loh, mengapa demikian?”
Murid 2: “Ya kalau semut itu memakai handuk dari pinggang ke bawah berarti semut itu jantan, tapi kalau semut itu memakai handuk dari dada ke bawah berarti semut itu betina Bu” (Guru dan murid tertawa serempak)
Guru: “Haha, baiklah akan Ibu jelaskan jawaban yang benarnya ya”
Kemudian kelas kembali normal.

Karya : Riri Aprilia
Tema  : Sains

Cuaca Panas

      Di siang hari yang sangat panas, Didin dan Udun sedang menikmati es kelapa muda yang sangat segar. Mereka mengobrol tentang cuaca panas yang sangat panas ini.
Didin : “Dun, hari ini kok panas banget ya?”
Udun : “Itu karena global warming Din.”
Didin : “Emangnya global warming itu gara-gara apa sih?”
Udun : “Gara-gara ini nih!” Jawab Udun samba mengangkat es kelapa miliknya.
Didin : “Loh kok gara-gara es kelapa sih Dun?”
Udun : “Coba kamu habiskan es kelapanya!”
Didin : “Nih sudah habis.”
Udun : “Sekarang kamu buang sampah plastik bekas es kelapanya!”
      Didin pun membuang sampah plastik bekas es kelapanya.
Udun : “Nah ini nih yang bikin hari makin panas, gara-gara kamu buang sampah sembarangan!”

Didin hanya nyengir sambil memungut kembali sampah plastik yang dia buang sembarangan tadi dan membuangnya di tempat sampah yang ada di dekatnya.

Karya : Melan Nurraripah
Tema  : Lingkungan

Buta Warna

      Di siang hari yang panas, Jajang di berhentikan oleh polisi karena dia melanggar lampu lalu lintas. Jajang yang terlihat panik berhenti dan pak polisi mendekatinya.
Polisi : “Selamat siang pak, bisa lihat surat-suratnya.”
Jajang : “Siangg Pak, ini pak STNK dan SIM saya.”
Polisi : “Surat-suratnya lengkap dan sesuai, tapi bapak tau apa kesalahan bapak apa?”
Jajang : “Apa ya pak? Saya tidak tahu.” Jajang berpura-pura tidak tahu kesalahannya.
Polisi : “Bapak sudah melanggar lampu lalu lintas. Lampu menunjukkan warna merah artinya berhenti tapi bapak terus melaju.”
Jajang : “Oh itu pak, maaf pak saya tidak tahu pak, saya buta warna jadi saya tidak bisa membedakan mana warna merah, mana warna kuning dan mana warna hijau pak.”
Polisi : “Baiklah, karena kesalahan bapak, bapak saya tilang ya. Silahkan bapak hadir di persidangan.”
Jajang : “Loh? Tadi kan saya sudah bilang pak kalau saya buta warna.”
Polisi : “Ya saya sudah mendengarnya tadi, tapi Pak di mana-mana lampu lalu lintas itu berurutan. Lampu pertama berwarna merah, lampu kedua berwarna kuning, dan lampu ketiga berwarna hijau. Apa bapak juga buta akan urutan? Dan sekarang silahkan ini ambil tiket tilang bapak. Selamat siang.”
      Dengan kesal Jajang mengambil tiket tersebut dan pergi sambil terus menggurutu karena dia tidak berhasil dengan alasan tersebut.

Karya : Maya Maesaroh
Tema  : Sosial

Kantong Plastik

      Di suatu siang yang cerah, Budi dan Ani sedang bermain bersama di rumah Budi. Kemudian ibu Budi menyuruh Budi untuk membelikan gula dan telur. Dan Budi pun pergi ke warung yang tak jauh dari rumahnya ditemani Ani.
Budi       :”Bu, beli gula satu kilo sama telurnya satu kilo juga ya bu.”
Penjaga Warung  :”Ini nak gula sama telurnya masing-masing satu kilo. Telur sama gula nya mau di satukan apa di pisah pakai dua kantong plastik?”
Budi       :”Dipisah saja bu.”
Ani          :”Budi, disatu kantong plastik aja. Kamu tahu ga, kalau kantong plastik itu susah di urai oleh tanah kalau sudah jadi sampah dan kita buang. Nanti bumi kita ini semakin tercemar loh!”
Budi       :”Tenang saja Ani, aku sama ibu biasanya buang sampah plastik itu di sungai yang ada airnya, enggak di tanah kok.”
      Ani langsung terdiam dan menghela napas setelah mendengar tanggapan Budi. Kemudian mereka kembali ke rumah Budi untuk memberikan pesanan Ibu Budi.

Karya : Ainun Sahyani
Tema  : Lingkungan

Amis

      Tahun ini Cecep berhasil lulus SMA di Garut. Ia berencana untuk melanjutkan kuliah di Universitas Gajah Mada yang berada di Kota Yogyakarta. Sebelum Cecep berangkat tak lupa Ia berpamitan kepada kedua orang tuanya.
Abah      :”Jang, hati-hati kamu di sana yah. Jangan lupa solatnya dan belajar yang serius di sana!”
Cecep     :”Iya abah, Cecep pasti akan membanggakan abah dan ambu. Cecep pasti akan jadi Sarjana yang pertama dari kampung kita.”
Ambu     :”Ambu hanya titip pesan, hati-hati bergaul disana, apalagi kamu belum bisa berbahasa Jawa. Jaga ucapanmu di sana, karena lain di sini lain pula di sana Cep.”
Cecep     :”Iya ambu, Cecep akan mengingat semua pesan abah dan ambu. Sekarang Cecep pamit berangkat, doakan Cecep ya.”
      Akhirnya Cecep pun berangkat. Setelah 15 jam perjalanan yang cukup membuat Cecep lelah dan lapar, Cecep memutuskan untuk mencari warung nasi sebelum ia melanjutkan perjalanan menuju UGM.
Cecep     :”Nah itu dia ada warung nasi, isi perut dulu biar otak tetap fokus.”
Setelah berada di dalam warung nasi.
Cecep     :”Malam mas.”
Penjaga Warung  :”Malam mas, mau makan sama apa mas?”
Cecep     :”Saya mau ayam goreng, tempe, sama sayur asemnya ya mas.”
Penjaga Warung  :”Monggo mas ini silahkan dinikmati.”
Cecep dengan lahap menyantap makanan yang telah disediakan oleh mas penjaga warung tersebut.
Penjaga Warung  :”Wah sudah habis lagi. Lapar banget ya mas?”
Cecep     :”Iya nih mas, maklum perjalanan saya untuk kemari jauh dan lama mas.”
Penjaga Warung  :”Memangnya mas ini asalnya darimana?”
Cecep     :”Saya dari Garut mas, ke Yogya ini untuk kuliah.”
Penjaga Warung  :”Oalah dari Garut toh, gimana mas makanan warung saya? Uenak mas?”
Cecep     :”Enak mas enak, tapi sayur asemnya ko agak amis ya?” (Amis dalam bahasa sunda artinya manis)
Penjaga Warung  :”Eh? Amis gimana mas? Ini kan sayur asem tidak pakai ikan, kok bisa amis, bagaimana mas ini?” (amis dalam bahasa jawa artinya bau ikan)
Cecep     :”Loh memang tidak ada hubungannya sama ikan mas, mungkin ini amis gara-gara pake gula ya?”
Penjaga Warung  :”Oh di kampung mas gulanya bau amis toh. Kalau di sini gulanya dari aren mas.”
      Cecep kebingungan dan memutuskan untuk membayar makanan yang sudah dia makan, lalu setelah itu dia pun pergi dari warung itu dan melanjutkan perjalanan menuju UGM.
Penjaga Warung  :”Aneh orang itu, ini sayur manis begini bisa-bisanya dibilang amis, dasar perantau.”

Karya : Ahmad Math Khader
Tema  : Masyarakat (Sosial)

Formalin

Suatu hari di sebuah rumah terdapat anak perempuan yang sedang membantu ibunya di dapur. Mereka sedang membuka bungkusan yang berisi ikan mentah. Lalu kedua anak itu yang bernama Lili dan Lela saling bercakap-cakap saat ibunya pergi meninggalkan dapur.
Lili: “Eh, bukannya ibu membeli ikan ini 3 hari yang lalu ya? Kok tidak busuk ya? Biasanya kan kalo daging-dagingan akan berbau tidak sedap jika tidak di masukan ke dalam lemari es? Apalagi ini sampai 3 hari”
Lela: “Ya mungkin ikan ini pakai pengawet mayat”
Lili: “Hah? Formalin maksudnya?”
Lela: “Aku tidak tahu, tapi kan sekarang sedang marak kasus pencampuran zat kimia ke dalam makanan, ya termasuk pengawet mayat juga”
Lili: “Tapi kan pengawet mayat bukan untuk makanan”
Lela: “Mungkin karena ikan itu sudah menjadi mayat sehingga si pelaku memberi pengawet untuk mayat”
Lili: “Haha bisa saja kamu ini, jika demikian kita laporkan saja ke BPOM agar si pelaku juga diawetkan dipenjara”
Lela: “Haha setuju”
Kemudian mereka memanggil  ibunya dan memberitahu tentang ikan mentah tersebut.

Karya : Amanda Sundava
Tema  ; Sains

Smartphone

           Suatu hari di sebuah sekolah, dua orang sahabat yaitu Dadang dan Dudung sedang duduk santai di kantin. Si Dadang sedang asik memainkan handphone barunya, sementara Dudung sedang memakan mie baso pesanannya.

Dudung               :“Dang, kamu lagi ngapain sih? Asik bener kayanya?”
Dadang               :“ Ini Dung, saya baru beli smartphone terbaru nih Dung.”
Dudung              :“Wah keren Dang hapenya, bedanya sama yang sebelumnya apa Dang? Perasaan       dari bentuk sama, warna sama, merek sama, terus apa kelebihannya Dang?”
Dadang           :“Yang baru ini lebih hebat Dung, lebih canggih. Nih ya, sekarang kalau Dadang    ngerjain tugas sekolah, Dadang sangat terbantu sama hape baru ini Dung. Terus  kalau Dadang mau cari barang yang Dadang mau, hape ini juga bisa bantu Dadang  buat nyarinya, gitu Dung.”
Dudung              :“Ah perasaan sama aja deh sama yang dulu Dang.”
Dadang              :”Eh Dung, hape ini juga bisa bantu Dadang jadi tambah ganteng Dung! Intinya hape  baru Dadang ini bisa membantu Dadang di semua hal. Hape baru ini adalah sahabat    terbaik Dadang”
Dudung             :”Wah hebat yah hape baru kamu Dang.”
Dadang           :”Pastinya Dung, ini kan harganya mahal, sudah pasti teknologinya canggih dan        unggul di segala segi Dung. Emangnya hape kamu Dung.”
Dudung         :”Iya nih hape Dudung ga secanggih hape kamu Dang. Hape Dudung cumin bisa    telepon sama SMS-an doang.”
Tiba-tiba bel sekolah pun berbunyi. Dudung pun lekas menghabiskan sisa mie basonya dan bergegas untuk masuk ke kelas, sementara Dadang yang sedari awal sibuk memainkan handphone nya sibuk menghabiskan mie basonya yang masih utuh.
Dadang              :”Eh Dung, tungguin Dadang!”
Dudung              :”Cepetan Dang, kan sekarang kita mau ulangan.”
Dadang             :”Iya Dadang tahu, tapi ini baso Dadang belum habis, bantuin Dadang habisin            basonya Dung!”
Dudung            :”Duh maaf Dang, Dudung sudah kenyang, coba kamu minta tolong sama hape          baru kamu yang mahal dan canggih itu. Dia kan sahabat terbaik kamu, dia pasti mau  bantuin kamu Dang. Udah ya, Dudung duluan ke kelas ya.”
                Akhirnya Dudung pergi meninggalkan Dadang di kantin bersama dengan semangkok penuh mie baso dan satu buah smartphone mahal dan canggih sahabat terbaik Dadang.


Karya : Gio Arman
Tema  : Teknologi Sosial

Terkeren

      Suatu hari, tiga orang sahabat sedang berdebat soal handphone mereka masing-masing. Ada Somad, Soleh dan Sugeng.
Somad : “Lihat nih hp saya, harganya dua juta, kameranya jernih banget. Poto pakai kamera saya siapapun orangnya bakal kelihatan keren. Keren kan hp saya.”
Soleh : “Ahh masih kerenan hp saya dong. Harganya 5 juta, bisa tau lokasi mana pun yang mau saya tuju di seluruh dunia cukup dengan suara. Udah gitu passwordnya pakai mata saya ini. Ditambah bodynya tipis banget, jadi enak buat di sakuin.”
Sugeng yang daritadi hanya mendengar kedua sahabatnya berdebat, akhirnya berbicara dengan malu.
Sugeng : “Hp saya sih biasa-biasa saja, harganya cumin 200 ribu aja, udah gitu ga ada kameranya, tebel juga.”
Mendengar itu Somad dan Soleh tertawa sombong terhadap Sugeng.
Sugeng : “Tapi gini-gini juga hp saya tahan banting loh, udah gitu walaupun kecemplung kolam, hp saya ini masih berfungsi dengan baik. Coba hp kalian bisa ga? Hahahahaha.”
      Somad dan Soleh bingung dan hanya bisa diam sambil memegang hp mereka masing-masing dengan erat.

Karya : Ifa Rahmadhani
Tema  : Teknologi

Begadang

      Di suatu SMA, sedang berlangsung kegiatan belajar seperti biasa. Adil terlihat sangat mengantuk sekali ssat di kelas.
Guru : “Adil, kamu kenapa kelihatan ngantuk sekali.”
Adil : “Maaf bu, semalam saya begadang bu.”
Guru : “Lah ngapain kamu begadang, begadang itu kan ga baik Dil, orang tua kamu memangnya ga ngajarin kamu kalau begadang itu ga baik?”
Adil : “Ayah saya selalu ingetin saya bu kalau saya belum tidur lebih dari jam 10. Tapi semalam saya begadang karena mengerjakan tugas yang ibu kasih.”
Guru : “Tugas ibu kan hanya menyuruh kalian untuk membuat sebuah paragraf tentang apa saja yang ayah atau ibu kalian lakukan sehari-hari mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi sehingga kalian bisa meniru kelak di masa depan ketika kalian berkeluarga.”
Adil : “Iya bu jadi saya menulis tentang apa yang ayah saya lakukan kemarin. Nah setelah menyuruh saya untuk tidur ternyata ayah saya begadang menonton bola, karena saya harus memperhatikan hingga ayah saya tidur, jadi mau ga mau saya ikut begadang bu. Dan ternyata benar bu, begadang itu memang tidak ada gunanya.”

      Seisi kelas tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Adil tadi. Ibu guru hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil.

Karya : Hasna Wydianusti Nuraprilia
Tema  : Sosial

Pedagang Mangga Si Pembohong

     Seorang pedagang buah mangga sedang menjajakan dagangannya dan berkata, "Mangga... mangga...". Kemudian datang seorang ibu dan bertanya, "Mangganya manis gak bang?". Pedagang itu menjawab, "Manis-manis kok bu". Ibu itu akan membelinya untuk buka puasa nanti dan bertanya, "Berapa bang sekilo?". Pedagang menjawab, "Sepuluh ribu rupiah bu". Kemudian ibu itu membeli mangganya sekilo dan berkata, "Nanti kalau gak manis saya kembaliin lagi ya bang". Pedagang membalas, "Ya bu tapi barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan, ini bu mangganya".
      Setelah sampai di rumah, Ibu itu mencoba mangga yang telah dibelinya dan ternyata rasanya asam. Lalu ibu itu kembali lagi ke tempat si pedagang sambil terlihat kesal dan berkata, "Dasar penipu, katanya mangganya manis ternyata asam semua". Si pedagang menjawab dengan santai, "Ibu baru beli sekilo aja sudah marah-marah, saya yang beli satu gerobak saja tidak marah". Lalu ibu itu kembali kerumahnya sambil kesal dan berkata, "Haaaahhhh dasar!".


Karya : Nadin Awalya Pratiwi
Tema  : Masyarakat (Sosial)

Pematok Paku Fantastis

     Pembaca memang harus cermat juga dalam menyikapi berita sains atau teknologi dari medi massa. Di USA suatu hari terjadi jumpa pers oleh juru bicara perusahaan logam. Antara lain ditemukan peralatan yang bisa menembuskan paku berukuran 5cm pada kayu (maksudnya palu). Dalam waktu seketika Reuter memberikan serta menyebarkan ke seluruh dunia sehingga sampai juga di suatu daerah dimana sains/teknologinya masiih terbelakang, tetapi penduduknya dikenal bertangan sangat kuat. Saking kuatnya, sehingga untuk mematokkan paku yang terbuat dari kayu pun cukup dilakukan dengan tangannya sendiri tanpa menimbulkan cedera.
     Beberapa hari kemudian di daerah itu muncul selebaran, yakni sebuah berita yang referensinya dari salah satu surat kabar yang langsung mengutipnya dari Reuter. Judul selebaran itu sungguh mengejutkan. "Ditemukan Alat Pematok Paku Fantastis Berhasil Mengalahkan emampuan Tangan Manusia!".
     Lalu terjadilah diskusi sampai perdebatan anatara elit orang pandai di daerah tersebut. Malah di banyak tempat berlangsung seminar. Pokoknya jadi berita aktual. Bukan itu saja, pengusaha pun begitu semangat mencari informasi untuk mengimpornya. Bagaimana kalau selebaran ini dibaca oleh si penemu palu? Jangan-jangan ia tidak menganggapnya sebagai berita sains/teknologi. Tetapi sudah diganti menjadi berita anekdot.


Karya  : Muhamad Tri Aditya
Tema   ; Sains